Sekarang aku bertanya kepada diri sendiri. Menatap cermin dengan sorot tajam. Di tempat ibadah ada yang menasehatiku untuk hidup penuh syukur. Mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan. Pendapat itu cukup menghiburku meski bayangan cermin tak mampu berbohong.
Bulan merah jambu mengumumkan kepada para wanita untuk menampakkan wajahnya dibawah merekahnya cahaya. Sorot kebahagiaan terpancar dari wajah mereka satu per satu. Aku mengamatinya dengan seksama. Tak ada satu titik bagian tubuh yang aku lewatkan sedikit pun. Senyumnya, hidung mancung nya, bibirnya yang ranum, sorot sayu matanya, rambut panjang hitam kelam jatuh bak kain sutra, halus lembut. Aih…. Sombong sekali perempuan sundal itu. Tidak tahu apa jika aku memperhatikan dengan jijik.
Ternyata bukan hanya aku yang menimbun perasaan – perasaan iri dan benci padanya. Sahabat dekatku yang juga pesaing terberatku juga mengutarakan hal yang sama tatkala aku bercerita mengenai kebencianku pada perempuan sundal. Aku memanggilnya seperti itu sebab rambut hitamnya tergerai panjang melebihi bokong.
Aku melolong meratapi kemesraan yang ditampakkan dengan sengaja. Dengan lemah gemulai perempuan sundal itu meliuk – liuk manja. Membuatku ingin memuntahkan daging rendang meski sayang. Ratapan sukma dengan jeritan neraka menyakitkan tenggorokan telah membumbung melebihi batas kesabaran. Otakku telah dipenuhi taktik licik mendapatkan hati laki – laki yang menjadi perhatianku dan perempuan sundal itu. Ingin aku meracuninya ataupun menyayat wajah ayunya. Tapi, ku urungkan semua niat busuk itu. Aku berpikir ingin bersaing sehat. Malu dengan orang di kampung yang telah mengakui kecantikanku. Masa hanya karena perempuan sundal aku menghirup udara terbatas pada jeruji. Tidaklah.
Pada musim hujan ku gantungkan niat untuk menyaingi kecantikan perempuan sundal. Hati pangeran tampanku telah berhasil direbutnya dan aku dengan tenagaku akan merebutnya kembali. Dia belum sadar saja berhadapan dengan siapa. Jika perlu aku ikhlas menggunakan suntik botox untuk hidung dan menyusutkan bokong. Jika perlu dada juga aku berikan suntik untuk menyaingi milik perempuan sundal.
Kabarnya perempuan sundal menggunakan pakaian dan celana ukuran M. Wuih…. Dia belum tahu jika ukuran XXL sedang naik daun. Cuih… saatnya aku yang menyombongkan diri jika “Big is Beauty”. Kan bosan mendengarkan Cinderella story bertubuh sempurna, tak ada salahnya cinderela bertubuh padat. Pangeran saja belum sadar akan kecantikan dan kemampuanku. Ayo, aku buktikan!!!
Siang ini udara Jakarta tak seperti hari – hari biasa, panasnya melebihi celcius neraka. Tapi aku yang dengan bangga hendak menunjukkan kecantikan, tak menyurutkan niat menggunakan daster tanpa lengan di atas paha. Maklum udara sangat gerah siang ini. Setelah berdandan dan menyiapkan makanan kesukaan pangeran di atas meja, perempuan sundal datang dan dengan gemulai menyapaku,
”Siang mbak? Masak apa hari ini?”
”Ayam opor, sambal goreng kentang, rendang dan tumis jamur.”aku menyahut jutek dan diikuti sorot matanya yang penuh tanda tanya.
”Boros sekali masaknya. Ada acara apa masak banyak – banyak?”nada bicara perempuan sundal semakin meninggi.
”Sekali – sekali memanjakan lidah penikmatnya.”aku menyahut tak kalah tinggi suara. Perempuan sundal pun hanya mengangguk dan meninggalkanku sendiri di ruang makan. Aku tersenyum nyengir melihat tingkah polahnya.
Satu sikap telah ku buktikan pada perempuan sundal jika aku perempuan bermartabat. Aku tak mau harga diriku selama ini diinjak – injak. Sepuluh tahun aku mengenal pangeran, sedang dia hanya tiga tahun. Dan selama sepuluh tahun pula setiap hari aku menghabiskan waktu bersama pangeran. Jelas aku lebih paham dan mengerti sekali makanan kesukaan hingga kebiasaan – kebiasaan pangeran tampan. Sedang dia apa? Baru juga gadis kencur kemarin sore yang hendak menyaingi perempuan berpengalaman dalam urusan asmara. Cuih…. Angelina Jolie lewat belakangku. Tak ada apa – apanya.
Parfum melati pemberian emak di kampung sengaja aku tumpahkan semua di daster seksi yang ku kenakan. Hand body berkali – kali aku usapkan hingga kulitku licin dan halus. Rambut telah berulang kali pula aku sisir dan rapikan. Bedak telah ku poles sekali lagi bersama lipstik. Sekali lagi aku berdiri di depan cermin dan melihat wajahku sudah sempurna. Hemm… hanya saja masih ada yang kurang. Pipi, kelopak mata, bulu mata masih belum dipoles. Oh iya, aku pernah melihat perempuan sundal menggunakan maskara, eye shadow, blash on dan juga eye liner. Namanya aneh – aneh. Tapi kata orang – orang di pasar malam perempuan cantik biasa menggunakan itu untuk menarik perhatian kekasihnya.
Aku pun mencoba menggunakan benda – benda aneh yang ku dapat dari pasar malam. Pelan – pelan, sedikit – sedikit sembari mulut komat kamit membaca do’a aku memoles pipi, kelopak mata dan bulu mata. Tangan kananku tak berhenti meraih kapas dan pembersih muka. Mengusapkannya ke wajah, menghapusnya lalu memolesnya kembali. Terus berulang kali, hingga tanpa terasa matahari telang menyingsing di ufuk barat. Sepertinya senja telah datang. Wah…. Sebentar lagi pangeran tampan akan datang. Aku buru – buru merapikan wajah dengan alat – alat make up yang aneh – aneh itu. Aku yakin perempuan sundal akan terperanjat heran jika aku bisa menyamai kecantikannya. Hahahahahha….. aku tertawa puas memperhatikan wajahku yang terlihat sempurna di bayangan cermin. Dan waktu yang aku nantikan pun datang.
Aku berjalan meliuk – liuk bak cacing kepanasan dengan sandal tumit 10 cm di kaki. Daster seksi di atas paha aku rapikan sekali lagi. Sembari menghangatkan kembali masakan yang tadi siang aku siapkan untuk pangeran, aku mencoba bercermin kembali. Aku tersenyum tersipu malu memperhatikan wajahku sendiri di cermin. Aih..emak pasti bangga punya anak gadis secantik aku. Hihihihi… aku tersenyum gila sembari melamunkan kejadian pangeran tampan terpesona akan kecantikan yang aku pancarkan. Lamat – lamat aku mendengarkan suara menyebut namaku berulang kali, tak begitu lama suara itu terdengar memekakkan telinga dan membuyarkan lamunan.
”Mbak….di luar hujan angkatin jemuran saya… Buruan…..”aih..kenapa sih perempuan sundal itu harus berteriak memanggil – manggil namaku? Sebal….
”Iya bu sebentar, masih di dapur saya…….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar